Selasa, 09 Maret 2010

Kausalitas Antara Nilai Tukar Rp/US$ dengan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kausalitas Antara Nilai Tukar Rp/US$

dengan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Oleh

Imam Mukhlis




Abstract



This research aims to analize causality between exchange rate (Rp/US$) and economic growth in Indonesian economy for 1975-2004. Based on Granger Causality Test, this result has shown that there is undirectional causality from economic growth to exchange rate. This result shown that monetary policy transmission with interest rate channel not effective to affect the national output.



Keywords : Granger Causality Test, monetary policy transmission,

Exchange Rate System




Liberalisasi dan globalisasi perekonomian dunia telah merubah wajah perekonomian dunia menjadi semakin terbuka. Arus keluar masuk barang, jasa dan modal menjadi semakin mudah menembus batas-batas teritorial suatu negara. Konsep country without border menjadi menguat dalam konteks perekonomian dunia seiring dengan keterbukaan perekonomian domestik terhadap penetrasi dari luar negeri.

Dalam konteks ini, integrasi perekonomian suatu negara ke dalam perekonomian global menjadi “pilihan”, dimana mau atau tidak mau suatu negara memiliki keharusan untuk masuk dalam pasar bebas. Sebagai konsekuensinya, setiap negara akan memiliki ketergantungan satu dengan yang lainnya baik menyangkut aspek perdagangan barang dan jasa secara internasional dan integrasi pasar keuangan di berbagai negara (Abel dan Bernanke,2004:468). Konsekuensi dari ketertutupan negara terhadap penetrasi dari luar negeri membawa konsekuensi kepada “pengucilan” perekonomian domestik terhadap perekonomian luar negeri.

Mencermati benang merah yang terjadi dalam integrasi perekonomian global tersebut, maka dinamika yang terjadi di pasar keuangan sangat cepat dan volatilitasnya sangat tinggi. Depresiasi atau apresiasi nilai tukar mata uang di suatu negara akan cepat menjalar (efek domino) ke perekonomian negara lain. Pengangguran, inflasi, output (PDB), dan tingkat bunga dalam negeri akan bergerak melakukan penyesuaian sebagai respon dari efek domino yang terjadi.

Pergerakan nilai tukar mata uang merupakan konsekuensi dari adanya interaksi yang terjadi diantara pelaku ekonomi di berbagai negara dalam melakukan transaksi kegiatan ekonominya. Interakasi ini akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi di berbagai negara. Peningkatan arus barang, jasa dan modal antar negara pada akhirnya dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang antar negara. Ketidakstabilan dalam pergerakan nilai tukar mata uang dapat berakibat pada ketidakstabilan makroekonomi suatu negara. Oleh karena itu guna menjaga kestabilan makroekonomi suatu negara, maka kebijakan moneter yang mengarah pada kestabilan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing menjadi sangat diperlukan.

Berbagai studi telah dilakukan guna menganalisis hubungan antara nilai tukar dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Isu utama dalam penelitian tentang hubungan nilai tukar mata uang dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diklasifikasikan menjadi beberapa isu, yakni : pemisahan dalam jangka waktu (short run atau long run); terdapatnya potential asymmetris dalam dampak fluktuasi nilai tukar mata uang antara apresiasi dan depresiasi; pergerakan nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi inflasi dan variabel riil lainnya dan sebaliknya variabel-riil dalam makroekonomi dapat mempengaruhi pegerakan nilai tukar. Oleh karena itu arah hubungannya dapat bersifat dua arah (causality) dan volatilitas nilai tukar mata uang sangat sulit untuk ditentukan model linier atau model near linier (Amato, dkk, 2005:8).

Menurut Sarwono dan Warjiyo (1998:10) dalam perekonomian terbuka dengan flexible exchange rate system, gerakan nilai tukar dapat merubah harga relatif sehingga mempengaruhi perkembangan ekspor dan impor. Selanjutnya gerakan nilai tukar tersebut akan mempengaruhi permintaan aggregate, laju pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi. Debelle dan Galati (2005) dalam penelitiannya terhadap perekonomian US juga menyimpulkan bahwa perubahan dalam nilai tukar mata uang suatu negara akan menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan outputnya. Sedangkan menurut Buissan dan L’Hotellerie-Fallois (2004) depresiasi nilai tukar tidak selalu membawa perluasan terhadap output perekonomian.

Upaya otoritas moneter (Bank Sentral) untuk menjaga kestabilan nilai tukar mata uang, akan sangat terkait dengan sistem nilai tukar yang dianut masing-masing negara. Bagi negara yang menganut sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate system), dibutuhkan intervensi mutlak dari bank sentral untuk menjaga agar nilai tukar mata uangnya tidak bergeser dari nilai tukar mata uang yang telah dipatok (pegged) sebelumnya. Sedangkan bagi negara yang menganut sistem nilai tukar mengambang (flesxible exchange rate system), maka peran bank sentral baru diperlukan apabila nilai tukar mata uangnya mengalami apresiasi dan depresiasi yang tajam.

Dalam perkembangannya seiring dengan liberalisasi dan globalisasi yang sedang terjadi pada saat ini, banyak negara manganut sistem nilai tukar mengambang. Sistem nilai tukar ini banyak diterapkan di berbagai negara, karena tidak dibutuhkan cadangan devisa yang cukup besar guna menjaga kestabilan nilai tukar mata uang suatu negara. Bank sentral baru intervensi di pasar valas apabila dijumpai apresiasi dan depresiasi yang terlalu tajam pada mata uangnya.

Tulisan ini berupaya untuk menganalisis hubungan kausal antara nilai tukar mata uang Rp/US$ dengan pertumbuhan ekonomi dalam perekonomin Indonesia selama tahun 1975-2004 dengan menggunakan causality model. Hal ini penting karena selama tahun 1960 hingga sekarang, otoritas moneter di Indonesia telah mengganti sistem nilai tukar sebanyak 5 kali. Perubahan dalam sistem nilai tukar tersebut secara langsung akan mempenagurhi kondisi perekonomian dalam negeri sebagai respon dari dinamika eksternal yang terjadi. Sehingga dapat diketahui dampak perubahan dalam sistem nilai tukar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Secara rinci perkembangan dalam sistem nilai tukar di Indonesia sebagai berikut :
Tabel : Sistem nilai Tukar di Indonesia Tahun 1960-sekarang

Periode

Sistem Nilai Tukar

1960-an

Multiple exchange system

Agustus 1971-November 1978

Nilai tukar tetap

November 1978-September 1992

Mengambang terkendali

September 1992-Agustus 1997

Managed floating dengan crawling band system

Agustus 1997-kini

Sistem mengambang bebas


Dalam hal ini perubahan dari satu sistem ke sistem lainnya didasarkan pada kebutuhan agar sistem nilai tukar sesuai dengan perekonomian yang mengalami perubahan seiring dengan perkembangan perekonomian yang semakin dinamis dan pesat (sebelum krisis Juli 1997).Perubahan sistem niali tukar sangat berpenagruh pada perilaku nilai tukar Rupiah, khususnya setelah sistem nilai tukar beralih kepada sistem nilai tukar baik mengambang maupun terkendali maupun mengambang bebas.

Menurut Amato, dkk. (2005:1) fluktuasi nilai tukar mata uang di pasar uang dunia sangat sulit untuk diprediksi. Oleh karena itu diperlukan berbagai model yang dapat menjelaskan fluktuasi nilai tukar, seperti model uncoverd interest parity (UIP), long term models of purchasing power parity (PPP), long run exchange rate equilibrium, short run exchange rate behaviour, traditional macroeconomic, general equilibrium dan model stockastic variant. Secara umum studi empiris tentang dampak perubahan dalam nilai tukar terhadap output perekonomian dapat dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu :single equation econometric methods, vector autoregressive (VAR) models, structural macroeconometric models dan DSGE models.

Metode

Penelitian ini mengembangkan temuan (Amato, dkk, 2005:8) dalam menjelaskan fenomena hubungan dua arah (causality) pergerakan nilai tukar mata uang antar negara dengan variabel makroekonomi dengan menggunakan pendekatan ekonometrik. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kausal antara nilai tukar Rp/US$ dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, digunakan model granger causality test yang dikembangkan oleh Granger (1969). Dalam granger causality test hubungan kausal antara nilai tukar Rp/US$ dengan pertumbuhan ekonomi dapat dirumuskan ke dalam model persamaan sebagai berikut :

n n

  • LPDBt = Σ αi LKURSt-i + Σ βj LPDBt-j + μ1t …………………(1)

i=1 j=1

n n

  • LKURSt= Σ λi LKURSt-i + Σ δ j LPDBt-j + μ2t ………………….(2)

i=1 j=1

Berdasarkan pada model tersebut, maka kesimpulan dari arah hubungan akan memiliki keputusan :

a). Undirectional causality dari LKURS ke LPDB, bila koefisien α pada pesamaan (1) signifikan secara statistik dan koefisien dari δ pada persamaan (2) tidak signifikan secara statistik.

b). Undirectional causality dari LPDB ke LKURS, bila koefisien α pada pesamaan (1) tidak signifikan secara statistik dan koefisien dari δ pada persamaan (2) signifikan secara statistik.

c). Feedback atau bilateral causality antara LPDB dan LKURS, bila semua koefisien pada LPDB dan LKURS pada kedua persamaan di atas signifikan secara statistik.

d). Indepedence antara LPDB dan LKURS, bila semua koefisien pada LPDB dan LKURS pada kedua persamaan di atas tidak signifikan secara statistik.

Berdasarkan pada cakupan masalah seperti telah diungkapkan di atas, maka penelitian ini menggunakan data sekunder (time series) selama tahun 1975-2004. Data-data tersebut adalah nilia tukar Rp/US$ dan pertumbuhan ekonomi Indonesia (%). Data-data tersebut dapat diperoleh dari publikasi Bank Indonesia dan Asian Development Bank (ADB).

Hasil Penelitian

Perkembangan Nilai PDB dan Nilai Tukar Rp/US$ Indonesia

Perkembangan perekonomin nasional selama tahun 1970 an hingga tahun 2000 an senantiasa diwarnai oleh dinamika eksternal yang cukup kuat. Hal ini dapat difahami, karena proses pembangunan nasional selama ini tidak bisa terlepas dari kegiatan perdagangan internasional, khususnya menyangkut ekspor migas pada periode 1970-1980. Dalam perkembangannya devisa dari migas mengalami penurunan seiring dengan dinamika perkembangan yang terjadi. Akibatnya pemerintah harus mencari alternatif sumber penerimaan yang lain, khususnya untuk mengatasi daya saing non migas sebagai akibat dari dutch disease karena lonjakan harga minyak. Mata uang Rupiah (Rp) pun akhirnya didevaluasi secara tajam terhadap mata uang Amerika Serikat (US $) pada tahun 1978, 1983 dan 1986 (Soesastro,2004:5). Upaya yang lainnya adalah serangkaian kebijakan deregeluasi di sektor keuangan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kinerja sektor keuangan dan moneter dalam pembangunan.

Dalam sistem nilai tukar yang berlaku di Indonesia, mengalami pergeseran dari multiple exchange system (1960-an) ke sistem nilai tukar mengambang bebas (floating/flexibel system). Pergeseran ini disebabkan oleh kondisi dimana keterbukaan perekonomian nasional terhadap interaksi dari perekonomian luar negeri semakin tidak dapat dibendung. Akibatnya penentuan kurs nilai tukar Rp/US$ secara tetap akan membawa konsekuensi pada ketersediaan cadangan devisa yang cukup besar untuk kebutuhan intervensi di pasar valas.

Perkembangan kurs nilai tukar mata Rp/US$ selama tahun 1975-2004 mengalami flukutasi. Hal ini karena selain sistem nilai tukar mengambang yang telah dianut juga karena semakin bebasnya arus barang, jasa dan modal keluar masuk perekonomian nasional. Perkembangan kurs mata uang Rp/US$ secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2 :

Perkembangan Nilai PDB Indonesia



Berdasarkan pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa selama tahun 1975-2004 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mengalami perkembangan yang meningkat. Pada tahun 1975 nilai PDB Indonesia sebesar Rp.12,643 Triliun, kemudian pada tahun 2004 meningkat menjadi Rp. 2.303,031 Triliun. Peningkatan PDB menunjukkan meningkatkan kegiatan ekonomi baik secara sektoral, regional maupun perdagangan internasional.

Seirng dengans emakin terbukanya perekonomian nasional terhadap perekonomian luar negeri, maka arus keluar masuk barang, jasa dan modal menjadi semakin mudah. Sebagai konsekeunsinya nilai tukar mata uang Rupiah (Rp) terhadap mata uang US (US$) menjadi mudah berfluktatif. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kurs nilai tukar Rp/US$ selama tahun 1975-2004 sebagaimana gambar berikut :

Gambar 3 :

Perkembangan Nilai Tukar Rp/US$



Berdasarkan pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa sebelum tahun 1995 nilai tukar mata uang Rp/US$ relatif stabil dalam pergerakannya. Hal ini disebabkan oleh kebijakan moneter yang terkait dengan pengendalian stabilitas makroekonomi masih efektif dalam mempengaruhi besaran-besaran moneter sebagai respon terhadap dinamika eksternal yang terjadi.

Namun demikian dalam perkembangannya keterbukaan perekonomian nasioanl membawa konsekuensi pada semakin sulitnya otoritas moneter mengendalikan besaran-besaran moneter yang ada. Akibatnya kurs nilai tukar menjadi sangat rentan terhadap perubahan yang terjadi dalam perekonomian luar negeri. Akibatnya nilai tukar mata uang Rp/US$ menjadi sangat berfluktuatif. Setelah krisis melanda perekonomian nasional pada pertenghahan tahun 1997 hingga 2004 nilai tukar Rp/US$. Pada tahun 1997 nilai kurs Rp/US$ sebesar Rp.4650/US$, kemudian pada tahun 2001 nialai kurs menjadi Rp.10.400/US$ dan pada tahun 2004 nilai kurs menjadi Rp. 9.290/US$.

Implikasi dari fluktuasi nilai tukar Rp/US$ tersebut adalah adanya ketidakpastian mengenai gerakan nilai tukar Rp/US$ di masa datang. Dalam hal ini peranan ekspektasi pelaku pasar dan masyarakat akan menjadi lebih penting dalam mempengaruhi gerakan nilai tukar (Dornbusch,1976). Secara langsung fluktuasi nilai tukar tersebut akan mempengaruhi tingkat harga di dalam negeri karena banyaknya barang-barang impor (imported inflation). Harga relatif (real effective exchange rate) juga akan semakin berfluktuasi dan berpengaruh terhadap kinerja ekspor dan impor, dan karenanya mempunyai dampak yang smeakin perlu diperhitungkan terhadap permintaan aggregate. Laju pertumbuhan ekonomi juga dapat terpengaruh. Pendeknya fluktasi nilai tukar yang lebih tinggi akan mempengaruhi sasaran-sasaran laju inflasi, laju pertumbuhan dan keseimbangan neraca pembayaran yang hendak dicapai oleh kebijakan ekonomi makro (Sarwono dan Warjiyo, 1998:14).

Dalam sistem nilai tukar mengambang Bank Indonesia dapat lebih leluasa dalam melaksanakan kebijakan moneter dalam negeri karena tidak dituntut untuk melakukan sterilisasi atas dampak aliran dana masuk terhadap perkembangan uang beredar untuk mempertahankan suatu tingkat atau kisaran nilai tukar tertentu. Dengan demikian pengendalian moneter dapat lebih difokuskan pada pencapaian sasaran-sasaran di dalam negeri. Aliran dana masuk dari luar negeri akan meningkat dan menyebabkan nilai tukar Rp cenderung apresiasi. Permintaan domestik baik konsumsi maupun investasi akan menurun karena tingginya suku bunga dan menurunnya harga relatif. Laju pertumbuhan ekonomi akan cenderung lebih rendah. Laju inflasi juga akan menurun baik karena apresiasi nilai tukar maupun karena menurunnya permintaan domestik (Sarwono dan Warjiyo, 1998:14).

Dengan demikian kebijakan moneter dalam sistem nilai tukar Rupiah yang fleksibel memerlukan sensitivitas antara suku bunga domestik terhadap aliran modal internasional dan keeratan hubungan negatif antara nilai tukar Rupiah dengan suku bunga serta elastisitas yang tinggi antara perubahan nilai tukar Rupiah dengan penawaran ekspor dan permintaan impor. Selain itu,nilai tukar Rupiah yang fleksibel dan stabil juga harus tetap dijaga agar tidak memberikan tekanan pada harga-harga domestik.

Kausalitas antara Nilai Tukar Mata Uang Rp/US$ dengan Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan pada hasil perhitungan dengan menggunakan progam Eviews 3 dapat dirangkum seperti pada tabel berikut ini :




Uji Kausalitas Granger

Pairwise Granger Causality Tests

Sample: 1975 2004

Lags: 2

Null Hypothesis:

Obs

F-Statistic

Probability

LKURS does not Granger Cause LPDB

28

3.16957

0.06085

LPDB does not Granger Cause LKURS

3.65305

0.04191


Dependent Variable: LPDB

Method: Least Squares

Date: 12/17/05 Time: 12:41

Sample(adjusted): 1976 2004

Included observations: 29 after adjusting endpoints

Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

LKURS(-1)

0.040119

0.078837

0.508887

0.6150

LPDB(-1)

0.989518

0.048936

20.22075

0.0000

R-squared

0.996158

Mean dependent var

12.28294

Adjusted R-squared

0.996016

S.D. dependent var

1.488612

S.E. of regression

0.093959

Akaike info criterion

-1.825443

Sum squared resid

0.238364

Schwarz criterion

-1.731147

Log likelihood

28.46893

Durbin-Watson stat

1.455979


Dependent Variable: LKURS

Method: Least Squares

Sample(adjusted): 1976 2004

Included observations: 29 after adjusting endpoints

Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

LKURS(-1)

0.684215

0.152706

4.480613

0.0001

LPDB(-1)

0.204652

0.094787

2.159068

0.0399

R-squared

0.969034

Mean dependent var

7.610325

Adjusted R-squared

0.967888

S.D. dependent var

1.015607

S.E. of regression

0.181996

Akaike info criterion

-0.503188

Sum squared resid

0.894312

Schwarz criterion

-0.408892

Log likelihood

9.296231

Durbin-Watson stat

1.704999


Berdasarkan pada hasil analisis di atas dapat dirangkum kembali hasil uji kausalitas granger antara nilai tukar Rp/US$ dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama thun 1975-2004 sebagai berikut ini :

Tabel : Koefisien Persamaan Regresi Granger Causality

Koefisien

Persamaan

Keterangan

Kesimpulan

Α

1

Tidak signifikan

Undirectional causality dari LPDB ke LKURS

Δ

2

Signifikan

Sumber : Hasil olah data, lampiran 3

Keterangan:

- Semua data stasioner pada derajat satau pada α=5% (lihat lampiran 2)

  • Pertumbuhan ekonomi diproksi dengan PDB

  • Data PDB dan nilai kurs adalah nilai nominal

  • Data bersumber dari Asian Development Bank Report

  • Semua data ditranslog


Pembahasan

Berdasarkan pada hasil di atas dapat dijelaskan bahwa hubungan kausal antara nilai tukar mata uang Rp/US$ dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia selama tahun 1975-2004 bersifat Undirectional causality dari LPDB ke LKURS. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini memiliki hubungan secara tidak langsung terhadap nilai tukar Rp/US$. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa fluktuasi dalam nilai tukar Rp/US$ selama ini tidak memberikan efek yang cukup siginifikan terhadap kegiatan ekonomi nasional. Hal ini dapat dimengerti karena pertumbuhan ekonomi nasional dewasa ini lebih banyak didorong oleh pengeluaran pemerintah dan pengeluaran konsumsi masyarakat.

Apabila dikaitkan dengan jalur nilai tukar dalam mekanisme kebijakan moneter, maka pergerakan dalam nilai tukar dapat berpengaruh terhadap perekonomian khususnya perekonomian terbuka dengan sistem nilai tukar fleksibel (Sarwono dan Warjiyo,1998:8). Akan tetapi kenyataannya di Indonesia menunjukkan hal yang sebaliknya. Hal ini dimungkinkan karena dalam kenyataannya otoritas moneter (Bank Indonesia) di Indonesia lebih condong menggunakan jalur suku bunga dalam mekanisme kebijakan moneter. Ketidakstabilan makroekonomi dapat dipengaruhi dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Dalam konteks kestabilan nilai tukar mata uang Rp/US$, intervensi Bank Indonesia dapat berupa pembelian mata uang asing (US$) atau penjualan mata uang asing (US$) di pasar valas. Perekonomian dalam negeri akan merespon kebijakan intervensi ini melalui perubahan dalam kegiatan ekonomi. Meskipun demikian dalam penelitian ini menunjukkan hasil yang sebaliknya. Semakin tinggi aktivitas perekonomian domestik akan memberikan efek secara tidak langsung terhadap pergerakan dalam nilai tukar mata uang Rp/US$.

Hasil temuan dalam penelitian ini juga memberikan hasil bahwa selama tahun 1975-2004 sistem nilai tukar yang dianut selama ini lebih condong ke fixed exchange rate system. Hal ini dapat ditandai oleh adanya ketidakefektifan kebijakan moneter dalam mempengaruhi output (PDB). Bahkan sebaliknya kebijakan fiskal dapat efektif dalam mempengaruhi output (Dornbusch, dkk, 2004:328).

Hasil penelitian ini senada dengan temuan oleh Kwan (2001) dalam penelitiannya tentang pengaruh antara pertumbuhan ekonomi di US dan fluktuasi nilai tukar Yen/US$ terhadap perekonomian negara-negara Asia Timur selama tahun 1982-1997. Hasilnya menunjukkan terdapat pengaruh yang cukup signifikan antara pertumbuhan ekonomi di US dan fluktuasi nilai tukar mata uang terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia Timur. Begitu pula dengan hasil penelitian oleh Kumakura (2005:38) tentang pengaruh antara fluktuasi nilai tukar mata uang domestik terhadap US$ dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara di Asia Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif nilai tukar terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia Timur selama tahun 1985-2004.

Berdasarkan pada temuan empiris pada penelitian ini dan hasil penelitian lain yang relevan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi relatif memberikan dampak terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang di berbagai negara. Kasus di Indonesia memberikan gambaran bahwa ada variabel antara (channel variabel) antara pertumbuhan ekonomi dengan nilai tukar Rp/US$. Berdasarkan mekanisme dalam transmisi kebijakan moneter Indonesia dijelaskan bahwa kebijakan moneter merupakan salah satu pilihan kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah guna menjaga stabilitas makroekonomi suatu negara. Secara teoritis alur mekanisme transmisi kebijakan moneter menurut Friedman (1975) terdiri dari :

Instrumen kebijakan moneter

Sasaran operasional

Sasaran

antara

Sasaran

akhir

Sedangkan secara operasional terdapat 4 jalur transmisi utama yang menunjukkan bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi perekonomian (Mishkin,1995 ; Boediono,1996), yaitu :jalur suku bunga, jalur nilai tukar, jalur harga aset dan jalur kredit.

Dalam kaitannya dengan jalur nilai tukar dapat disimpulkan bahwa pergerakan nilai tukar paling berpengaruh terhadap perekonomian khususnya perekonomian terbuka dengan sistem nilai tukar fleksibel. Pengetatan moneter akan mendorong suku bunga nominal dalam negeri meningkat. Jika suku bunga internasional tidak berubah maka interest rate differential meningkat, dan ini akan mendorong masuknya dana dari luar negeri. Nilai tukar akan cenderung mengalami apresiasi. Kegiatan ekspor akan menurun dan sebaliknya impor akan meningkat, sehingga transaksi berjalan dalam neraca pembayaran akan membaik. Akibatnya, permintaan aggregate akan menurun dan demikian pula laju pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi (Sarwono dan Warjiyo, 1998:8).

Kesimpulan

Seiring dengan dinamika perekonomian dunia yang semakin mengglobal, pergerakan arus barang, jasa dan modal dalam perekonomin antar negara menjadi semakin meningkat. Dalam hal ini, nilai tukar mata uang suatu negara akan berfluktuasi sesuai dengan pergerakan dalam faktor-faktor yang mempengaruhinya. Fluktasi nilai tukar mata uang suatu negara merupakan konsekuensi dari semakin meningkatnya interaksi pelaku ekonomi di berbagai negara. Penggunaan mata uang asing dalam setiap bertransaksi menunjukkan semakin meningkatnya kegiatan ekonomi yang melewati batas-batas teritorial suatu negara.

Dinamika yang terjadi dalam perekonomian nasional selama tahun 1975-2004 juga tidak terlepas dari perkembangan perekonomian luar negeri. Arus kegiatan ekspor dan impor barang dan jasa serta capital flow mengalami peningkatan yang cukup siginifikan. Pergerakan nilai tukar mata uang Rp/US$ mengalami perkembangan yang menunjukkan kecenderungan depresiasi. Hasil pengujian dengan menggunakan granger causality model terhadap perekonomian nasional selama tahun 1975-2004 tentang hubungan kausal antara nilait tukar Rp/US$ dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan hasil undirectional causality dari LPDB ke LKURS. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan tidak langsung dengan nilai kurs Rp/US$. Hasil temuan ini dapat disimpulkan bahwa kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar tidak efektif untuk mempengaruhi output nasional selama tahun 1975-2004 dan sistem nilai tukar lebih condong ke fixed exchange rate system.

Saran

Sebagai akhir dari tulisan ini perlu kiranya direnungi bersama tentang mekanisme kebijakan moneter dalam mempengaruhi stabilitas dalam pergerakan nilai tukar Rp/US$. Sesuai dengan teori yang ada, dalam flexible exchange rate system kebijakan moneter dapat efektif mempengaruhi output prekonomian. Dalam implementasinya di Indonesia, pemberlakuan sistem tersebut masih belum sepenuhnya dilaksanakan. Pada tahun 1980 an pemerintah pada saat itu masih sering melakukan devaluasi dengan tujuan-tujuan tertentu. Setelah krisis pada pertengahan tahun 1997 pemerintah lebih konsisten dalam menerapkan flexible exchange rate system dengan rentang nilai kurs pada kisaran tertentu. Semakin efektif kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas kurs nilai tukar, maka stabilitas makroekonomi menjadi lebih terjaga dalam konstelasi perekonomian dunia yang semakin mengglobal dewasa ini.

Daftar Pustaka


Abel, Andrew B dan Ben S.Bernanke, 2004.Macroeconomic, Fifth Edition, Pearson Addison Wesley, New York


Amato, Jeffery, Andrew Filardo, Gabriele Galati. Goetz Von Peter dan Feng Zhu, 2005.”Research on Exchange Rates and Monetary Policy:an Overview”, Bank For International Settlement, No.178, June:1-19


Boediono, 1994.”Melihat Kembali Target Moneter Kita:M0,M1 atau M2:Catatan Direktur Bidang Moneter”, Bank Indonesia, Oktober


Bond, Timothy J, et al., 1994.”Money, Interest and Inflation”, URES Discussion paper, Bank Indonesia, Juni


Buissan, A dan P. L’Hotellerie-Fallois, 2004.”Exchange Rates, Inflation, Output and Trade:A Macro for Spain and Euro Area”, Mimeo, Bank of Spain



Dornbusch, Rudigner, Stanley Fischer, Richard Startz, 2004.Macroeconomics, Ninth Edition, McGraw-Hill, Boston



Granger, C.J.W, 1969.”Investigating Causal Relations by Ecometric Models and Cross Spectral Methods”, Econometrica, July:424-438


Miskhin, Frederich S, 1995.”Symposium on the Monetary Transmission Mechanism”, Journal of Economic Perspetives, Vol.9,No.4,Fall


----------------------------,2003.The Economic of Money, Banking, and Financial Markets, Boston, Addison Wesley


Kumakura, Masanaga, 2005.”Trade,Exchange Rate, and Macroeconomic Dynamics in East Asia:Why the Electronic Cycle Matters”, Institute of Developing Economies (IDE),Jetro, Jepang :1-48


Kwan, C.H, 2001.Yen Bloc:Toward Economic Integration in Asia, Washington DC:Brookings Instituion Press.

Debelle, G dan G. Galati, 2005.”Current Account Adjustment and Capital Flows”, BIS Working Paper, No.169, February


Sarwono, Hartadi A. dan Perry Warjiyo, 1998.”Mencari Paradigma Baru Manajemen Moneter Dalam Sistem Nilai Tukar Fleksibel:Suatu Pemikiran Untuk Penerapannya di Indonesia”,Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juli:1-23


Soesastro, Hadi, 2004.”Kebijakan Persaingan, Daya Saing, Liberalisasi, Globalisasi, Regionalisasi dan Semua Itu”, CSIS Economic Working Paper, Maret :1-25























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar